Bawaslu Ajak Pelajar SMA Negeri 1 Talun Cerdas Digital dan Berintegritas di Era Deepfake
|
TALUN – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membawa tantangan baru bagi kehidupan demokrasi. Kemunculan video deepfake yang semakin menyerupai kenyataan hingga maraknya informasi bohong atau hoaks menuntut generasi muda untuk lebih kritis dalam memilah informasi, terutama yang berkaitan dengan persoalan politik dan kepemiluan.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam kegiatan Konsolidasi Demokrasi yang diselenggarakan Bawaslu di SMA Negeri 1 Talun, Kabupaten Pekalongan, Rabu (7/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Wahyudi Sutrisno, sebagai narasumber, serta dihadiri Ketua Bawaslu Kabupaten Pekalongan, Mohamad Tohir. Kegiatan dibuka oleh Kepala SMA Negeri 1 Talun.
Dalam kegiatan tersebut, Wahyudi Sutrisno mengajak para pelajar untuk memahami tantangan demokrasi di era digital, ketika batas antara fakta dan manipulasi semakin sulit dikenali. Kemampuan teknologi AI dalam menghasilkan gambar, suara, maupun video yang tampak nyata dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi menyesatkan dan membentuk opini publik secara keliru.
Menurutnya, generasi muda perlu memiliki kecakapan literasi digital agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar di media sosial. Sikap kritis diperlukan untuk memastikan bahwa informasi yang diterima benar-benar dapat dipertanggungjawabkan sebelum dipercaya atau disebarluaskan.
Saring sebelum sharing menjadi salah satu pesan penting yang perlu diterapkan dalam kehidupan bermedia sosial. Pelajar didorong untuk memeriksa sumber informasi, membandingkan pemberitaan dari sumber tepercaya, serta tidak terburu-buru membagikan konten yang belum terverifikasi.
Selain menghadapi hoaks dan deepfake, generasi muda juga perlu memahami bahwa informasi digital dapat memengaruhi persepsi masyarakat terhadap peserta Pemilu maupun proses demokrasi. Karena itu, kecermatan dalam menerima informasi menjadi bagian penting dalam membentuk pemilih yang rasional dan berintegritas.
Dalam konteks pengawasan Pemilu, literasi digital juga menjadi bekal bagi masyarakat untuk mengenali potensi penyalahgunaan ruang digital, termasuk penyebaran konten manipulatif yang berpotensi mengganggu kualitas demokrasi. Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga ruang digital yang sehat dan bertanggung jawab.
Ketua Bawaslu Kabupaten Pekalongan, Mohamad Tohir, turut hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan demokrasi di lingkungan sekolah. Sementara itu, pembukaan oleh Kepala SMA Negeri 1 Talun menandai dukungan satuan pendidikan terhadap penguatan pemahaman demokrasi dan literasi digital bagi para pelajar.
Melalui kegiatan Konsolidasi Demokrasi ini, Bawaslu mendorong generasi muda agar tidak sekadar mengikuti arus informasi, tetapi mampu berpikir kritis, menjaga integritas, serta bertanggung jawab dalam menggunakan media digital.
Demokrasi yang berkualitas dimulai dari generasi muda yang cerdas dan bertanggung jawab. Dengan membiasakan diri memeriksa fakta, melawan hoaks, dan bijak bermedia sosial, pelajar dapat mengambil bagian dalam menjaga integritas demokrasi, baik di ruang digital maupun dalam penyelenggaraan Pemilu.
Humas