Konsolidasi Demokrasi Bersama HMI: Menguatkan Kepedulian Generasi Muda terhadap Demokrasi
|
Pekalongan – Bawaslu Kabupaten Pekalongan terus memperkuat ruang dialog demokrasi dengan kalangan mahasiswa. Salah satunya melalui kegiatan Konsolidasi Demokrasi bersama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pekalongan yang digelar pada Rabu, 11 Maret 2026 di RM Ayam Gepuk Tirto, Pekalongan.
Kegiatan ini menghadirkan Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Tengah, Wahyudi Sutrisno, serta Ketua Bawaslu Kabupaten Pekalongan, Mohamad Tohir, sebagai pembicara utama. Puluhan kader HMI hadir dalam forum tersebut untuk berdiskusi tentang tantangan demokrasi serta peran generasi muda dalam menjaga kualitas pemilu.
Dalam pemaparannya, Wahyudi Sutrisno mengajak peserta untuk memahami tanda-tanda kemunduran demokrasi melalui konsep “Authoritarian Litmus Test” yang disarikan dari buku “Bagaimana Demokrasi Mati” karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt.
Menurut Wahyudi, konsep tersebut dapat menjadi alat deteksi dini untuk melihat kecenderungan perilaku otoriter seorang pemimpin, bahkan sebelum mereka benar-benar berkuasa. Ia menjelaskan bahwa terdapat empat tanda utama yang perlu diwaspadai dalam praktik politik modern.
Pertama, penolakan terhadap aturan main demokrasi, seperti ketidakpatuhan terhadap konstitusi atau upaya melemahkan lembaga demokrasi. Kedua, penyangkalan legitimasi oposisi politik, yaitu ketika lawan politik dianggap sebagai musuh negara atau pihak yang tidak sah.
Ketiga, toleransi terhadap kekerasan politik, misalnya dengan membiarkan atau bahkan mendorong tindakan kekerasan dari pendukungnya. Keempat, upaya membatasi kebebasan sipil dan media, termasuk intimidasi terhadap pers serta pembatasan ruang kritik masyarakat.
Wahyudi juga menekankan bahwa ancaman terhadap demokrasi saat ini sering kali tidak terjadi melalui kudeta secara langsung, melainkan melalui cara yang lebih halus. Ia menjelaskan bahwa pemimpin dengan kecenderungan otoriter kerap melemahkan demokrasi dari dalam dengan mempolitisasi lembaga independen, menyebarkan disinformasi, serta memanfaatkan kekuasaan secara berlebihan.
“Demokrasi bisa runtuh bukan hanya karena serangan dari luar, tetapi juga karena dilemahkan secara perlahan dari dalam sistem itu sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Bawaslu Kabupaten Pekalongan, Mohamad Tohir, mengaitkan nilai-nilai demokrasi dengan momentum bulan Ramadan. Menurutnya, puasa tidak hanya membentuk kedisiplinan spiritual, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia menegaskan bahwa nilai kepedulian tersebut juga penting dalam menjaga demokrasi dan pemilu yang berintegritas.
“Puasa mengajarkan kita untuk peduli terhadap sesama. Nilai kepedulian ini juga relevan dalam demokrasi, yaitu dengan ikut menjaga proses pemilu agar tetap jujur dan adil,” ungkap Tohir.
Ia juga mengajak mahasiswa, khususnya kader HMI, untuk menjadi bagian dari pengawas partisipatif dalam setiap tahapan pemilu. Menurutnya, keterlibatan generasi muda sangat penting untuk memastikan demokrasi berjalan sehat dan transparan.
Kegiatan konsolidasi demokrasi ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh diskusi. Para peserta aktif berdialog mengenai tantangan demokrasi, peran mahasiswa, serta pentingnya menjaga integritas pemilu di tengah dinamika politik yang terus berkembang.
Acara kemudian ditutup dengan buka puasa bersama, yang semakin mempererat silaturahmi antara Bawaslu Kabupaten Pekalongan dan kader HMI Cabang Pekalongan dalam semangat menjaga demokrasi yang berintegritas.
Humas Bawaslu Kab Pekalongan